Friday, October 14, 2016

13 kata Jangan Menunggu yang perlu kita hindari

 13 kata “JANGAN MENUNGGU” yg perlu kita hindari:
  1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah  maka kamu akan bahagia.
  2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekah lah, maka kamu akan  semakin kaya.
  3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergerak lah, maka kamu akan termotivasi.
  4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi peduli lah dengan orang lain, maka kamu akan dipedulikan.
  5. Jangan menunggu orang memahami kamu baru kamu memahami dia, tapi pahami lah orang itu, maka orang itu akan memahami mu.
  6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis, tapi menulis lah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisan mu.
  7. Jangan menunggu proyek baru bekerja, tapi bekerja lah, maka proyek akan menunggu mu.
  8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajar lah mencintai, maka kamu akan dicintai.
  9. Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hidup lah dengan tenang, maka percayalah ..... bukan sekadar uang yg datang tapi juga rezeki yg lain nya.
  10. Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergerak lah, maka kamu akan menjadi contoh yg diikuti.
  11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur, tapi bersyukur lah, maka Anda akan bertambah sukses.
  12. Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukan lah, maka kamu pasti bisa.
  13. Jangan menunggu waktu luang untuk beribadah, tapi luangkan lah waktu untuk beribadah.

"Semoga bermanfaat"

         ("انظر ما كتب ولا تنظر من نقل")

Kajian Adab Islam


MEMAHAMI PELAN-PELAN AL-MAIDAH 51

MEMAHAMI PELAN-PELAN AL-MAIDAH 51
By Kang Deden Muhammad Makhyaruddin
(Juara 1 Tahfizh 30 Juz dan Tafsirnya Tingkat Dunia)

1. Memahami Al-Maidah 51 harus pelan-pelan mulai huruf Ya sampai huruf Nun, agar benar-benar faham dan TIDAK LUPA.

2. Al-Maidah 51 lebih tegas dibanding ayat-ayat sejenisnya dalam Al-Qur'an. Karena, kalau ayat yang lain hanya menyebut orang-orang kafir, maka Al-Maidah 51 menunjuk langsung siapa orang-orang kafir yang dimaksud. Yaitu Yahudi dan Nashara.

3. Jika melihat tafsir bil ma'tsur, yang dimaksud auliya adalah Teman Dekat. Tapi mafhumnya Fahwal Khithab. Sehingga segala bentuk pertemanan, hubungan, atau kerjasama yang melibatkan Yahudi dan Nashara secara dekat (akrab) dilarang. Termasuk mengambil jasa mereka. Apalagi menjadikan mereka pemimpin. Umar bin Khaththab memecat seorang sekretaris yang bekerja kepada Abu Musa Al-Asy'ari karena beragama Nashara padahal Abu Musa tak lagi menemukan SDM selainnya. Apalagi jika melihat penafsiran Ibnu Katsir, duh, sangat berat. Tapi, biarlah, itu sangat cocok di zamannya sebagai perlawanan terhadap Kerajaan yang menerapkan Undang-undang Mongol (Tatar) yang zhalim.

4. Jika auliya diterjemahkan dengan Teman Dekat seperti yang diinginkan mereka yang setuju dengan kepemimpinan non muslim, maka, malah, bisa jadi berantakan. Kerukunan umat beragama tidak akan terbangun di NKRI ini. Karenanya, untuk konteks keindonesiaan, Kementrian Agama mestinya menterjemahkan auliya dengan pemimpin. Seakan-akan menyatakan, tidak dilarang menjalin pertemanan dengan non muslim selama tidak menjadikannya pemimpin.

5. Dengan melihat sabab nuzul-nya, ayat ini tidak tidak sedang mempersoalkan kekufuran Yahudi dan Nashara, karena memang sudah jelas kufurnya, tidak perlu dipersoalkan lagi, tapi sedang mempertanyakan keimanan mukminin.

6. Saat itu mukminin diuji "kekalahan" di Perang Uhud, kehilangan banyak nyawa, dan menderita kekurangan banyak harta, karena  adanya "Koruptor Berpengikut" di tubuh mereka yang setelah berlalu waktu yang lama kemudian diketahui ternyata dia bernama Abdullah bin Ubay.

7. Yahudi dan Nashara tiba-tiba tampil di masyarakat dengan citra sebagai komunitas yang dapat merubah keadaan di Madinah. Tak heran kalau banyak orang-orang mukmin yang belum mantap imannya memilih mereka sebagai tempat menyandarkan harapan mereka akan perubahan. Terlebih, sebelum datang Islam, hubungan kerjasama antar mereka sudah terjalin cukup kuat.

8. Ayat ini turun membendung arus pilihan mukminin ke Yahudi dan Nashara yang otomatis sangat merugikan pihak yang sejak awal berambisi menjadi penguasa di Madinah hingga membuat perpecahan di tubuh mukminin (Abdullah bin Ubay).

9. Olok-olok terhadap ayat 51 pun dimulai. Bahkan, berdasarkan surah al-Nisa ayat 140, olok-olok tersebut sudah terang-terangan. Bukan sekadar terdengar, tapi juga terlihat.

10. Pihak yang pro Yahudi dan Nashara sibuk mentakwil (menafsir) ayat agar sesuai dengan pilihannya sebagaimana dilukiskan dalam Al-Maidah ayat 52. Bahwa mereka memihak Yahudi dan Nashara dikarenakan kalau tidak, mereka tidak dapat keluar dari krisis. Intinya takut tidak menang. Takut kalah lagi (nakhsya an tushibana da'irah).

11. Para pendukung Yahudi dan Nashara disebut dalam Al-Maidah ayat 52 dengan orang-orang yang hatinya berpenyakit. Nah, Al-Maidah ayat 51, sedang mempertanyakan keimanan orang yang model begini.

12. Ada apa dengan Yahudi dan Nashara? Mengapa sampai segitunya? Ini bocoran dari Allah tentang karakter mereka yang tidak diketahui orang:

a. Sebagian mereka adalah waliy sebagian yang lain. Mereka hanya perpihak ke sesama mereka saja. Isu bahwa mereka berpihak kepada keadilan, bukan pada golongan tertentu, itu patut dipertanyakan. Tidak bisa menjadi Ummatan Wasathan kecuali mukminin yang hatinya tak berpenyakit.

b. Orang yang berwali kepada mereka (Yahudi dan Nashara) sama keberpihakannya dengan mereka. Bagaimana orang model begini punya komitmen. Pasti modus. Abdullah bin Ubay meminta idzin kepada Rasulullah Saw untuk tetap berwali kepada Yahudi dan Nashara saat Ubadah bin Shamit memutus hubungan perwalian dengan mereka. Ini karena dia punya kepentingan. Ini yang disebut oleh seorang Tabiin, pindah Agama menjadi Yahudi atau Nashara tanpa terasa.

c. Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim. Sangat jelas larangan berwali kepada Yahudi dan Nashara karena mereka zhalim, tidak amanah. Bagaimana dia bisa amanah sementara mereka sepanjang hidupnya berkhianat kepada Allah.

13. Apakah semua Nashara khianat? Tidak. Tidak semua Nashara berkhianat kepada mukminin. Melainkan ada yang tidak berkhianat. Beda dengan Yahudi dan Musyrikin. Ini paling tidak sesuai dengan surah Al-Maidah ayat 82. Tanda mereka tak khianat adalah ketika mereka tulus berwali kepada mukminin karena mengerti kebenaran Al-Qur'an.

14. Sekali lagi, haramnya memilih Yahudi dan Nashara dalam Al-Maidah 51 dikarenakan mereka tidak berpihak kepada keadilan, melainkan berpihak kepada kelompoknya, juga mereka tidak amanah. Maka, orang mukmin yang tidak amanah karena mementingkan kelompoknya, apalagi mementingkan dirinya, partainya, hingga suara mukminin pecah, adalah sama buruknya dengan Yahudi dan Nashara.

Ayo bersatu.