Friday, October 14, 2016

13 kata Jangan Menunggu yang perlu kita hindari

 13 kata “JANGAN MENUNGGU” yg perlu kita hindari:
  1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah  maka kamu akan bahagia.
  2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekah lah, maka kamu akan  semakin kaya.
  3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergerak lah, maka kamu akan termotivasi.
  4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi peduli lah dengan orang lain, maka kamu akan dipedulikan.
  5. Jangan menunggu orang memahami kamu baru kamu memahami dia, tapi pahami lah orang itu, maka orang itu akan memahami mu.
  6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis, tapi menulis lah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisan mu.
  7. Jangan menunggu proyek baru bekerja, tapi bekerja lah, maka proyek akan menunggu mu.
  8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajar lah mencintai, maka kamu akan dicintai.
  9. Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hidup lah dengan tenang, maka percayalah ..... bukan sekadar uang yg datang tapi juga rezeki yg lain nya.
  10. Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergerak lah, maka kamu akan menjadi contoh yg diikuti.
  11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur, tapi bersyukur lah, maka Anda akan bertambah sukses.
  12. Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukan lah, maka kamu pasti bisa.
  13. Jangan menunggu waktu luang untuk beribadah, tapi luangkan lah waktu untuk beribadah.

"Semoga bermanfaat"

         ("انظر ما كتب ولا تنظر من نقل")

Kajian Adab Islam


MEMAHAMI PELAN-PELAN AL-MAIDAH 51

MEMAHAMI PELAN-PELAN AL-MAIDAH 51
By Kang Deden Muhammad Makhyaruddin
(Juara 1 Tahfizh 30 Juz dan Tafsirnya Tingkat Dunia)

1. Memahami Al-Maidah 51 harus pelan-pelan mulai huruf Ya sampai huruf Nun, agar benar-benar faham dan TIDAK LUPA.

2. Al-Maidah 51 lebih tegas dibanding ayat-ayat sejenisnya dalam Al-Qur'an. Karena, kalau ayat yang lain hanya menyebut orang-orang kafir, maka Al-Maidah 51 menunjuk langsung siapa orang-orang kafir yang dimaksud. Yaitu Yahudi dan Nashara.

3. Jika melihat tafsir bil ma'tsur, yang dimaksud auliya adalah Teman Dekat. Tapi mafhumnya Fahwal Khithab. Sehingga segala bentuk pertemanan, hubungan, atau kerjasama yang melibatkan Yahudi dan Nashara secara dekat (akrab) dilarang. Termasuk mengambil jasa mereka. Apalagi menjadikan mereka pemimpin. Umar bin Khaththab memecat seorang sekretaris yang bekerja kepada Abu Musa Al-Asy'ari karena beragama Nashara padahal Abu Musa tak lagi menemukan SDM selainnya. Apalagi jika melihat penafsiran Ibnu Katsir, duh, sangat berat. Tapi, biarlah, itu sangat cocok di zamannya sebagai perlawanan terhadap Kerajaan yang menerapkan Undang-undang Mongol (Tatar) yang zhalim.

4. Jika auliya diterjemahkan dengan Teman Dekat seperti yang diinginkan mereka yang setuju dengan kepemimpinan non muslim, maka, malah, bisa jadi berantakan. Kerukunan umat beragama tidak akan terbangun di NKRI ini. Karenanya, untuk konteks keindonesiaan, Kementrian Agama mestinya menterjemahkan auliya dengan pemimpin. Seakan-akan menyatakan, tidak dilarang menjalin pertemanan dengan non muslim selama tidak menjadikannya pemimpin.

5. Dengan melihat sabab nuzul-nya, ayat ini tidak tidak sedang mempersoalkan kekufuran Yahudi dan Nashara, karena memang sudah jelas kufurnya, tidak perlu dipersoalkan lagi, tapi sedang mempertanyakan keimanan mukminin.

6. Saat itu mukminin diuji "kekalahan" di Perang Uhud, kehilangan banyak nyawa, dan menderita kekurangan banyak harta, karena  adanya "Koruptor Berpengikut" di tubuh mereka yang setelah berlalu waktu yang lama kemudian diketahui ternyata dia bernama Abdullah bin Ubay.

7. Yahudi dan Nashara tiba-tiba tampil di masyarakat dengan citra sebagai komunitas yang dapat merubah keadaan di Madinah. Tak heran kalau banyak orang-orang mukmin yang belum mantap imannya memilih mereka sebagai tempat menyandarkan harapan mereka akan perubahan. Terlebih, sebelum datang Islam, hubungan kerjasama antar mereka sudah terjalin cukup kuat.

8. Ayat ini turun membendung arus pilihan mukminin ke Yahudi dan Nashara yang otomatis sangat merugikan pihak yang sejak awal berambisi menjadi penguasa di Madinah hingga membuat perpecahan di tubuh mukminin (Abdullah bin Ubay).

9. Olok-olok terhadap ayat 51 pun dimulai. Bahkan, berdasarkan surah al-Nisa ayat 140, olok-olok tersebut sudah terang-terangan. Bukan sekadar terdengar, tapi juga terlihat.

10. Pihak yang pro Yahudi dan Nashara sibuk mentakwil (menafsir) ayat agar sesuai dengan pilihannya sebagaimana dilukiskan dalam Al-Maidah ayat 52. Bahwa mereka memihak Yahudi dan Nashara dikarenakan kalau tidak, mereka tidak dapat keluar dari krisis. Intinya takut tidak menang. Takut kalah lagi (nakhsya an tushibana da'irah).

11. Para pendukung Yahudi dan Nashara disebut dalam Al-Maidah ayat 52 dengan orang-orang yang hatinya berpenyakit. Nah, Al-Maidah ayat 51, sedang mempertanyakan keimanan orang yang model begini.

12. Ada apa dengan Yahudi dan Nashara? Mengapa sampai segitunya? Ini bocoran dari Allah tentang karakter mereka yang tidak diketahui orang:

a. Sebagian mereka adalah waliy sebagian yang lain. Mereka hanya perpihak ke sesama mereka saja. Isu bahwa mereka berpihak kepada keadilan, bukan pada golongan tertentu, itu patut dipertanyakan. Tidak bisa menjadi Ummatan Wasathan kecuali mukminin yang hatinya tak berpenyakit.

b. Orang yang berwali kepada mereka (Yahudi dan Nashara) sama keberpihakannya dengan mereka. Bagaimana orang model begini punya komitmen. Pasti modus. Abdullah bin Ubay meminta idzin kepada Rasulullah Saw untuk tetap berwali kepada Yahudi dan Nashara saat Ubadah bin Shamit memutus hubungan perwalian dengan mereka. Ini karena dia punya kepentingan. Ini yang disebut oleh seorang Tabiin, pindah Agama menjadi Yahudi atau Nashara tanpa terasa.

c. Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim. Sangat jelas larangan berwali kepada Yahudi dan Nashara karena mereka zhalim, tidak amanah. Bagaimana dia bisa amanah sementara mereka sepanjang hidupnya berkhianat kepada Allah.

13. Apakah semua Nashara khianat? Tidak. Tidak semua Nashara berkhianat kepada mukminin. Melainkan ada yang tidak berkhianat. Beda dengan Yahudi dan Musyrikin. Ini paling tidak sesuai dengan surah Al-Maidah ayat 82. Tanda mereka tak khianat adalah ketika mereka tulus berwali kepada mukminin karena mengerti kebenaran Al-Qur'an.

14. Sekali lagi, haramnya memilih Yahudi dan Nashara dalam Al-Maidah 51 dikarenakan mereka tidak berpihak kepada keadilan, melainkan berpihak kepada kelompoknya, juga mereka tidak amanah. Maka, orang mukmin yang tidak amanah karena mementingkan kelompoknya, apalagi mementingkan dirinya, partainya, hingga suara mukminin pecah, adalah sama buruknya dengan Yahudi dan Nashara.

Ayo bersatu.

Thursday, September 29, 2016

RENUNGAN BAGI YANG MENCINTAI ISTRINYA

RENUNGAN BAGI YANG MENCINTAI ISTRINYA

Oleh : Ustadz Fadlan Fahamsyah, Lc, MHI
(Pengajar STAI Ali bin Abi Thalib, Surabaya)

Rumah tanggamu adalah kehormatanmu...

Hati-hatilah wahai hamba Allah....

Jangan engkau membantu syetan untuk menghancurkan rumah tanggamu sendiri.....

Berapa banyak rumah tangga yang kokoh, tinggi, tegak, indah dan menawan namun hancur berantakan karena dipicu hadirnya pihak ketiga...cinta yang tak diundang...perasaan yang terlarang...

Waspadalah dengan FITNAH MEDSOS...

Bermula dari komunikasi, chattingan, kenalan ringan..berlanjut dengan curhat...hingga lambat laun namun pasti timbul lah cinta yang tertanam

Hati-hatilah....wahai para lelaki....

Jangan anda merasa aman ketika istri anda begitu sibuk di dunia maya...hari2nya disibukkan dengan dunia mayanya...sampai ia melupakan dunia nyatanya, di kamar dia pegang hape...di dapur pegang hape...bahkan ketika mengajari anakmu pun dia pegang hape...

Bertaqwalah kepada Allah wahai kaum lelaki...bagaimana engkau bisa meninggalkan istrimu di rumah, engkau sibuk bekerja mencari rupiah sedang istrimu tanpa kau sadari mencari kesibukan lain, ingin mengusir sepinya, mulailah ia mencari teman curhat, ...menceritakan aibmu ke lelaki lain...dan bahkan istrimu memuji laki2 lain yang tidak pernah menafkahinya...kamulah yg menafkahinya tapi....ia keluhkan kekuranganmu di depan lelaki selainmu....

Ketika semua itu sudah tertanam...mulailah hilang cintanya kepadamu..angan2nya selalu terbang dengan teman yang terlarang...dia tidak memperdulikan lagi anakmu, dirimu dan kehormatan keluargamu.

Bahkan terkadang ia merengek2 kepadamu minta smartphone yang mahal...untuk apa?....dan atas dasar apa? Apakah smartphone mahal itu bisa menjadikan istrimu lebih mencintaimu???...apakah smartphone yang mahal itu bisa menambah cepat hapalan anakmu????...tidak...sekali lagi tidak...

Justru makin menjauhkan kamu darinya...dan mendekatkan orang yang jauh menuju kepadanya....

Dan bagi Anda..

Para suami yang memiliki istri karir...wanita kantoran...

Bagaimana engkau bisa menerima istrimu satu ruangan dengan lelaki selainmu...yang lebih tampan darimu..lebih harum parfumnya daripada parfummu...lebih berisi dompetnya daripada dompetmu....

Mana pikiran jernihmu...mana kelelakianmu...hilang cemburu...hilang kehormatan...

Apakah engkau mengira atasan istrimu itu malaikat yang tak tergoda oleh wajah cantik istrimu????...

Apakah engkau mengira lelaki itu tidak mengamati lekuk tubuh istrimu????

Kalaulah engkau belum sadar juga....pakailah kebaya atau daster karena telah hilang kejantananmu dan kelelakianmu.....Allahul musta'an.

Wahai para suami hati2lah.....di luar sana banyak tangan-tangan syetan yang ingin menghancurkan rumah tanggamu.....jagalah istrimu dan rumah tanggamu.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar godaannya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (orang yang ia goda, -pent) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh engkau sebaik-baik bala tentaraku”.
[HR Muslim IV/2167 no 2813
...

Para suami,

Begitu juga sebaliknya.....

Jangan sesekali engkau berlaku curang kapada istrimu...karena kecuranganmu akan terbalas...jika engkau bermudah-mudahan dengan wanita lain selain istrimu..
Maka itu adalah awal kehancuran....engkau telah membuka pintu rumahmu untuk laki2 lain selain dirimu...

Ingatlah istrimu...jaga kehormatannmu niscaya istrimu akan terjaga kehormatannya...

Ingat.... kecuranganmu akan terbalas....

Jangan engkau merusak rumah tangga orang....agar rumah tanggamu tidak dirusak orang

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امرَأَةً عَلَى زَوجِهَا

”Bukan bagian dariku seseorang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.”
(HR. Abu Daud 2175 dan dishahihkan al-Albani)

Takhbib adalah merusak istri orang agar dia membenci suaminya.

‘Siapa yang melakukan takhbib berarti dia menipu wanita, merusak keluarganya atau memotivasinya agar cerai dengan suaminya, agar dia bisa menikah dengannya atau menikah dengan lelaki lain atau cara yang lainnya.
(Aunul Ma’bud, 14/52

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ أَفْسَدَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا فَلَيْسَ مِنَّا

”Siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dariku.”
(HR. Ahmad 9157 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

INGAT WASIAT NABI

Dosamu-lah yang menyebabkan engkau berpisah dengannya,

"مَا تَوَادَّ اثْنَانِ فِي الله جل وعز أو في الإِسْلامِ ,فَيُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا إِلا بِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا"

“Tidaklah dua orang saling mencintai karena Allah, kemudian berpisah, melainkan karena perbuatan dosa yang dilakukan oleh salah seorang dari keduanya.
(HR. Bukhari )

Jagalah cintamu dengan engkau tidak berbuat dosa...

Karena dosamu bisa memisahkanmu dengan cintamu.

Semoga Allah menjaga keluarga kita.

Kepada Siapa Ku Kan Bersandar


JAMAAH OO JAMAAH HAJI

JAMAAH OO JAMAAH HAJI

Banyak kita temukan hal yang lucu dan aneh pada saat pelaksanaan manasik haji..

Aneh, Jedah itu tidak pernah dinyatakan oleh al-Qur'an dan AS-Sunnah serta Ijma ulama sebagai tempat miqat haji dan Umrah tapi banyak jamaah haji rame-rame ambil miqat di Jedah.

Aneh, Mabit di MINA pada tanggal 8 ZULHIJAH disunnahkan namun banyak jamaah haji meninggalkan, malah mereka rame-rame Mabit di Arafah untuk berzikir dan berdoa di sana.

Aneh, Mabit pada malam tanggal 9 ZULHIJAH di Muzdalifah hingga masuk shalat subuh diwajibkan, ternyata banyak sekali jamaah haji yang cuma mampir sesaat dengan alasan Mabit sampai subuh di Muzdalifah itu program haji reguler.

Aneh, Thawaf Sunnah sangat dianjurkan untuk dilakukan berulang kali, ternyata banyak jamaah haji yang menelantarkan malah mereka melakukan Umrah berkali-kali padahal tidak pernah dipraktikkan oleh Kanjeng nabi Muhammad.

Lucu, meskipun mereka Umrah berkali-kali namun rambut mereka masih tetap utuh padahal Rasulullah dan para sahabat
ali saja semua rambutnya habis.

Aneh, melempar Jumrah pada tanggal 11, 12 dan 13 ZULHIJAH harus dilakukan setelah matahari tergelincir tapi banyak yang melempar sebelum matahari terbit, bahkan ada yang melempar Jumrah untuk tanggal 11 dan 12 dalam satu malam sekaligus, caranya pada tanggal 11 malam ke 12 mereka melempar Jumrah jam 23.30 untuk tanggal 11 kemudian melempar jam  0.100 dini hari untuk tanggal 12 lalu mereka keluar dari MINA karena mengambil NAFAR AWAL.

Lucu banget ada di antara mereka yang Selfi sambil cium HAJAR aswad,
Selfi sambil Thawaf,
Selfi sambi Sa'i,
Selfi sambil melempar Jumrah bahkan Selfi bersama-sama di dalam masjid hingga orang  yang sedang shalat diganggu dan diinjak pecinya hanya untuk berselfi.

Lucu, tidak ada jamaah haji yang paling gemar berfoto ria kecuali jamaah haji Indonesia,
ada pesawat parkir di bandara difoto,
ada payung masjid nabawi sedang mengembang atau mengempis difoto,
jam dinding masjid difoto,
monyet Arab sedang lewat difoto hingga ada di antara mereka dengan ikhlas berselfi bersama onta.

Pergi ke Raudhah disunnahkan,
ziarah kubur nabi disunnahkan, ziarah Baqi disunnahkan,
shalat Sunnah mutlak di masjid Mekah berpahala seratus ribu kali dan di masjid Madinah berpahala seribu kali dibanding masjid yang lainnya, ternyata jamaah sibuk merokok, Selfi, bercanda dan berkeliling toko untuk belanja.

Mereka berhaji dengan bayar mahal, capek, sakit, letih dan meninggalkan kerjaan dan keluarga ternyata setelah sampai di Mekah dan Madinah hanya merokok, ngobrol dan tidur-tiduran di hotel atau penginapan.

Aneh, mereka sibuk mengadakan acara tahlilan dan yasianan, mereka bersemangat membaca shalawatan, Ratiban dan manaqib namun AL-Quran dicampakkan dan dzikir pagi dan sore yang dianjurkan Rasul ditinggalkan.

Hampir nyata pada zaman sekarang, orang berangkat haji, yang kaya hanya sekedar jalan-jalan, yang ahli agama jualan menyebarkan bid'ah dan yang miskin minta-minta.

Aneh tapi nyata. Semuanya berawal dari kebodohan mereka terhadap ajaran Islam.

 ✏  ust Zainal Abidin Syamsuddin hafizhahuloh

Friday, September 16, 2016

BEKAL - BEKAL MENUJU AKHERAT

📚 BEKAL - BEKAL MENUJU AKHERAT

Abu Ubaidah As Sidawi


Bekal apakah yang perlu kita siapkan di dalam perjalanan menuju akhirat ini?! Jawabannya, ada beberapa bekal yang perlu sekali kita siapkan sejak sekarang untuk perjalanan menuju kampung akhirat, di antaranya:

Pertama: Iman dan Tauhid
Ini merupakan bekal yang paling utama karena ia adalah kunci semua kebahagiaan dan kebaikan di dunia dan di akhirat. 

«مَنْ لَقِيَ اللهَ لَايُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ».
“Barang siapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya maka dia akan masuk surga. Adapun siapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan menyekutukan Allah maka akan masuk neraka.” (HR Muslim)

Oleh karenanya, agungkanlah tauhid di dalam hatimu dan lestarikanlah ia hingga ajal menjemputmu. Inilah sebuah isyarat isi kandungan al-Qur‘an yang dimulai dengan surat al-Fatihah dan ditutup dengan an-Nas yang berisi tauhid sebagai sinyal sebagaimana kita membuka hidup ini dengan tauhid maka tutuplah dengan tauhid. Ya Allah, matikanlah kami di atas tauhid.

Kedua: Ilmu
Selama berkelana dan mengembara di dalam perjalanan hidup ini, kita membutuhkan bekal ilmu yang membuahkan keyakinan. Coba kita bayangkan, jika kita pergi menuju suatu tujuan tanpa mengetahui alamat yang kita tuju, rute perjalanannya, dan sebagainya, apa yang terjadi? Mungkin kita akan tersesat, atau gampang ditipu orang, atau minimal terombang-ambing di dalam kebingungan.
Demikian pula di dalam perjalanan menuju akhirat, jika kita tidak memiliki lentera ilmu agama maka akan tersesat, mudah ditipu orang, dan terombang-ambing di dalam kebingungan. 

Maka dari itu, bersemangatlah—hai saudaraku—memperbanyak bekal ilmu agama yang dibangun di atas al-Qur‘an dan as-Sunnah karena ia akan menjadi lentera yang menyinari perjalananmu hingga ke surga yang penuh dengan kenikmatan.

«مَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ».

“Barang siapa menempuh perjalanan dalam rangka menuntut ilmu agama, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim)

Ketiga: Amal Shalih
Amal shalih adalah bekal utama yang bisa diandalkan untuk suatu hari yang pada waktu itu tidak bermanfaat harta, jabatan, dan anak, kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang jernih.

Namun, perlu diketahui bahwa suatu amal kebajikan baru disebut “amal shalih” jika memenuhi dua syarat:
Pertama: Ikhlas mengharapkan pahala Allah.
Kedua: Ittiba’ yaitu meneladani Rasulullah n\ bukan ibadah dengan perasaan dan hawa nafsu sendiri.

Amalan kebajikan tanpa ikhlas maka sia-sia, seperti debu-debu yang beterbangan. Sementara itu, amal kebajikan tanpa ittiba’ juga sia-sia hanya memberatkan, seperti pengembara yang memenuhi tasnya dengan batu, memberatkan tanpa faedah yang berarti.
Maka bersemangatlah untuk beramal kebajikan. Jangan pernah meremehkan sebuah amal kebajikan—sekecil apa pun—karena kita tidak tahu amal manakah yang diterima di sisi Allah, siapa tahu amal yang kita anggap remeh justru itu yang menjadikan faktor kita meraih ampunan Allah dan surga-Nya; seperti hadir di majelis ilmu, salam dan jabat tangan, membantu orang, menyingkirkan gangguan dan lain sebagainya.

Keempat: Taqwa
Taqwa adalah sebaik-baik bekal yaitu dengan selalu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah kapan pun dan di mana pun serta bagaimanapun kondisinya. Tinggalkanlah dosa, hai saudaraku, karena dosa adalah racun yang menjadikanmu selalu dirundung kegelisahan dan kesengsaraan. Allah berfirman:

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. (QS al-Baqarah [2]: 197)

Maka dari itu, hai saudaraku yang masih lalai dan bergelimang dosa, sesalilah dosa-dosa kita sebelum kita akan menyesal selamanya. Bertaubatlah sekarang juga sebelum ajal datang!

Kelima: Sabar
Bekal ini sangat penting dalam perjalanan menuju kampung akhirat karena perjalanan ini panjang, melelahkan, dan banyak rintangan yang menghadang (sebagaimana lazimnya perjalanan/safar di dunia); macet, sumpek, lelah, kecopetan, kerusakan kendaraan, dan sebagainya. Rasulullahpernah bersabda:

«السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ».

“Safar adalah bagian dari siksaan.”

Maka marilah kita hadapi semua ujian dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Perumpamaan seorang mukmin ibarat pohon, senantiasa angin menerpanya. Demikian pula cobaan senantiasa senantiasa menerpa seorang mukmin.

📂 Lentera Da'wah

             _ 🍃🍀🍃 _

Repost by :
🌀TEGAR DIATAS SUNNAH
Grup Sharing Kajian Islam 
Silahkan berbagi

Follow Channel Telegram
@kajianislamtegardiatassunnah
untuk mendapatkan informasi seputar agama Islam